Menggratiskan Biaya Aangkot pada Awalnya, Lalu Menyodomi pada Akhirnya

Menggratiskan Biaya Aangkot pada Awalnya, Lalu Menyodomi pada Akhirnya

menggratiskan-biaya-aangkot-pada-awalnya-lalu-menyodomi-pada-akhirnya

Bermodalkan kebaikan, dengan mengratiskan biaya angkot, Triono Agus Widodo, sopir angkot ini malah menyodomi siswa SMP tersebut. Tindakan ini, merupakan sebuah aksi tipu yang berujung-ujung pada tindakan pidana dan juga pelecehan seksual. Tindakan ini akhirna ditemukan oleh pihak polisi dan tepat kemarin, tanggal 15 September 2016, sopir angkot tersebut diadili di Pengadilan Negeri (PN), Surabaya.

Pengadilan tersebut dipimpin oleh majelis hukum Tutut Topo Sripurwanti. Sedangkan pihak terdakwa didampingi oleh pengacara Fariji dan juga pihak dari LBH Lacak.

Adapun terdakawa dikenai oleh pasal 82 ayat 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak Pasal 65 ayat 1 KUH Pidana. Pelecehan seksual terhadap anak SMP tentu saja melanggar beberapa pertauran hukum di Indonesia. Selain percobaan atas pemerkosaan, hal ini pun dikaitkan dengan pelecehan seksual untuk di bawah umur.

menggratiskan-biaya-aangkot-pada-awalnya-lalu-menyodomi-pada-akhirnya-2

Dengan begitu, terdakwa diancam dihukum penjara paling cepat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan juga disertakan denda sebesar 5 miliar paling sedikit.

Baca juga : Berita online Surabaya lainnya

Pada persidangan, ternyata sopir angkot tersebut mengaku sudah beberapa kali melakukan aksi bejatnya tersebut. Berdalih dengan membantu program gratis biaya transportasi untuk para pelajar, terdakwa melakukan pendekatan terhadap calon korban. Setelah memahami kepribadian korban tersebut, dan menganggap calon korban bisa ditipu, Triono menawarkan angkotnya sebagai transportasi gratis antar jemput.

Setelah itu, terdakwa mengajak calon korbannya ke tempat khusus yang sudah ia siapkan. DI tempat tersebut ada wahana biliar dan terdakwa pun membebaskan calon korbannya untuk bermain, dengan tujuan untuk membuat calon korbannya nyaman datang ke tempat tersebut. Sampai terdakwa merasa dekat dengan korban tersebut, baru lah terdakwa melakukan tindakan kejinya. Bahkan, terdakwa pun mengaku pernah melakukan hal keji tersebut pada korban sesama jenis. Terhitung kurang lebih sudah 6 korban yang ia sodomi dalam beberapa tahun ini. Bahkan untuk beberapa korban dengan jenis kelamin yang sama, terdakwa sempat melakukan beberapa kali kekerasan terhadap anak tersebut, supaya calon korban mau menuruti apa kemauan dari terdakwa.

Dengan begitu, dakwaan yang diberikan cukup jelas dan phak pendamping dari terdakwa memang tidak begitu banyak memberikan protes, dan dilangsungkan ke proses saksi dan pembuktian atas dugaan tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *